Biasanya, saat kita mendengar kata “berhala”, pikiran kita langsung melayang ke zaman batu atau patung-patung kuno di dalam film petualangan. Namun, siswa-siswi kelas 6 kita baru saja membuktikan bahwa berhala tidak selalu terbuat dari batu. Lewat proyek imajinatif (poster) mereka, anak-anak ini berhasil memotret “tuhan-tuhan kecil” yang tanpa sadar kita sembah di era modern ini.
- Gadget: Si Kotak Kecil yang “Menghisap” Waktu
Dalam sebuah poster karya siswa, digambarkan sebuah keluarga yang duduk di satu meja makan, namun tak ada satu pun yang bicara. Mata mereka terpaku pada layar yang bersinar.
“Gadget sudah seperti magnet yang sangat kuat,” tulis salah satu siswa dalam puisinya. Imajinasi mereka menangkap realita bahwa smartphone telah menjadi berhala masa kini yang membuat kita lupa menyapa orang di depan mata demi melihat layar yang tak bernyawa.
- Game Online: Dunia Virtual yang Menipu
Bagi anak-anak, game bukan sekadar hobi lagi, melainkan tempat pelarian. Dalam esai imajinatif mereka, siswa menggambarkan bagaimana “Level Game” atau “Skin Hero” seringkali dianggap lebih berharga daripada waktu istirahat atau membantu orang tua. Saat seseorang merasa lebih “hidup” di dalam game daripada di dunia nyata, di situlah game telah menjadi berhala baru.
- Uang dan Barang Bermerek: Si “Pencuri” Kebahagiaan
Ada satu karya menarik yang menceritakan tentang tokoh yang menari-nari dengan bertebaran uang dan membawa barang-barang bermerk.

Siswa kelas 6 mengingatkan kita bahwa:
- Uang seringkali dianggap sebagai kunci utama kebahagiaan.
- Barang bermerek menjadi ukuran untuk menghargai seseorang.
- Gengsi membuat kita lupa cara menjadi diri sendiri.
Mengapa ini penting?
Melalui karya-karya ini, siswa kelas 6 sebenarnya sedang mengajak kita untuk melakukan detoksifikasi hati. Berhala masa kini bukan lagi benda mati yang disembah secara fisik, melainkan segala sesuatu yang:
- Menyita waktu kita secara berlebihan.
- Membuat kita melupakan ibadah dan keluarga.
- Menjadi standar utama kebahagiaan kita.
Mengapa kita harus peduli?
Karya imajinasi anak-anak ini adalah alarm bagi kita semua. Mereka tidak hanya menulis tugas sekolah, mereka sedang memberikan cermin kepada kita semua. Berhala masa kini bukan lagi patung, melainkan segala sesuatu yang:
- Mengambil alih perhatian kita dari Tuhan.
- Menjauhkan kita dari interaksi sosial yang nyata.
- Membuat kita merasa “kurang” jika tidak memilikinya.
Pesan dari kelas 6
Pesan moral dari karya-karya ini sangat sederhana namun menohok:
Gunakan teknologi, jangan dikuasai teknologi. Cari uang, jangan disembah. Miliki barang, jangan diperbudak barang.

Penulis : Skolastika dan Titus.





Mr Bayu
Terimakasih informasinya dan ini menjadi hal nyata yg perlu kita perhatikan